Home » Programs » Conservation » Peran Serta Masyarakat Lokal Dalam Program Rehabilitasi Taman Nasional Gunung Leuser

Banyaknya kerusakan hutan di Indonesia bukanlah merupakan berita baru, termasuk didalamnya kerusakan yang terjadi dikawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), berdasarkan citra lansat 2005 tercatat 22.000 Ha kawasan TNGL telah rusak dan mengalami degradasi yang serius.

Tahun 2007 yang lalu tepatnya di Desa Halaban, di Dusun Wonosari terbentuklah sebuah kelompok masyarakat (KSM) yang diberi nama Kelompok Tani Pencinta TNGL, namun seiring waktu berjalan akhirnya kelompok masyarakat ini diberi nama baru pada komunitasnya, nama tersebut adalah Kelompok Tani Pelindung Leuser yang disingkat dengan KETAPEL.

ketapel-nurserySejak tahun 2008 kelompok ini telah memulai kegiatannya, dengan produksi bibit sebanyak 97.700 bibit dengan jenis yang beragam antara lain; tanaman Sungkai (Peronema canescens), Salam (Syzygium polyanthum), Pulai (Alstonia scolaris), Jengkol (Archidendron pauciflorum), Cempedak (Artocarpus champedan), Durian (Durio zibethinus), Bira-bira (Dillinea excelsa) dan Kayu Lanang (Oroxylum indicum). Untuk keberlanjutan program berikutnya akan di upayakan pohon yang pernah tumbuh di kawasan TNGL tersebut, namun harus ada kajian ekologis kawasan terlebih dahulu, bibit yang nantinya akan diupayakan dan telah direkomendasikan oleh pihak Balai Besar Taman Nasional, Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah VI Besitang adalah Bayur (Pterospermum javanicum), Beringin (Ficus benjamina L), Damar (Agathis spp) dan Petai (Parkia speciosa).

ketapel-penanamanTerhitung sejak bulan Maret 2008, kegiatan penanaman sudah mulai dilaksanakan, hingga saat ini jumlah tanaman yang sudah di tanam di Resort Sei Betung berjumlah 92.076 bibit (bekas lahan kelapa sawit yang di serobot oleh PT. Putri Hijau dan PT. Rapala, dengan estimasi kerusakan mencapai 500 Ha), dengan luasan yang sudah ditanam 74,6 Ha. Setelah melakukan penanaman, maka perawatan dilakukan dengan melakukan pembersihan gulma pada daerah sekitar lubang penanaman bibit. Dan bila ada ditemukan bibit yang mati maka akan dilakukan penyulaman. Perawatan tanaman diserahkan sepenuhnya kepada KETAPEL dan hingga saat ini perawatan dilokasi penanaman telah dilakukan sebanyak 43 Ha. Hal ini berdampak positif pada masyarakat, dimana biasanya kegiatan rehabilitasi kawasan sangat jarang melibatkan masyarakat dalam aplikasinya, Adanya peran serta masyarakat dalam pelaksanaan program, meningkatkan pengetahuan melalui diskusi kelompok, curah pendapat, penyuluhan lingkungan dan penyadaran melalui media film yang mudah diserap masyarakat. Peningkatan pengetahuan itu juga di dapat oleh anak-anak yang ada di dusun tersebut. Memasyarakatkan kegiatan konservasi bukan hal yang mudah namun harus di laksanakan sejak dini, ini merupakan proses yang berdampak positif bagi masyarakat.

Tanggal 02 November 2008 yang lalu akhirnya kelompok ini mengadakan kegiatan penguatan keberadaan organisasi mereka dengan kegiatan pengukuhan. Adapun kegiatan pengukuhan ini dihadiri oleh Kepala Bidang Taman Nasional Wilayah III Stabat, Pemerintahan setempat (Kepala Desa), LMD, Remaja Mesjid serta Orangutan Information Centre (OIC) selaku lembaga swadaya yang mendampingi masyarakat dan kelompok dalam program rehabilitasi kawasan TNGL sejak tahun 2007. Pengukuhan ini berjalan lancar, sederhana dan penuh khidmad. Dalam kata sambutannya pihak BBTNGL merasa senang sekali dengan terbentuknya KETAPEL di dalam masyarakat yang peduli terhadap TNGL, karena dengan terbentuknya kelompok masyarakat yang peduli akan sangat membantu sekali program pemerintah dalam melestarikan hutan konservasi yang telah ditatapkan sejak tahun 1997 silam oleh mentri kehutanan, terbentuknya KETAPEL adalah wujud dari saling berbagi tanggung jawab semua pihak dalam melestarikan kawasan TNGL

Di acara tersebut juga masyarakat yang tergabung dalam KETAPEL mengutarakan pernyataan sikap mereka yang disaksikan oleh semua undangan yang hadir adapun isi pernyataan sikap tersebut antara lain:

  1. Kami Kelompok Tani Pelindung Leuser, menentang dan mengecam segala bentuk kegiatan yang dapat mengancam dan merusak kawasan ekosistem taman nasional gunung leuser.
  2. Kami Kelompok Tani Pelindung Leuser, adalah petani-petani yang peduli, siap melindungi dan menjaga kawasan ekosistem taman nasional gunung leuser agar tetap lestari
  3. Kami Kelompok Tani Pelindung Leuser, siap membantu program-program pemerintah dalam usaha menghutankan kembali kawasan taman nasional gunung leuser yang telah rusak, akibat aktivitas illegal dan siap membantu menjaga kawasan taman nasional gunung leuser untuk tetap lestari.

Harapan kedepan TNGL yang telah ditetapkan sebagai Tropical rain forest heritage of Sumatera oleh UNESCO akan tetap terjaga untuk anak cucu. Penetapan ini di latar belakangi oleh pentingnya eksistensi TNGL sebagai bagian penting dari kesatuan ekosistem dunia.