Workshop dan Sosialisasi Program School Climate Challenge
March 20, 2009
British Council bersama dengan Ashoka, Pandu Pertiwi, dan National Geographic serta Orangutan Information Centre (OIC) melaksanakan sebuah program yang disebut dengan “School Climate Challenge” yaitu sebuah program yang memberikan kesempatan bagi anak muda untuk mengubah tantangan perubahan iklim menjadi peluang ekonomi bagi komunitasnya.
Program School Climate Challenge merupakan kompetisi yang bertujuan mendorong para guru dan siswa sekolah menengah di seluruh Indonesia untuk menggagas suatu project yang inovatif, kreatif, dan berkesinambungan, terutama berkontribusi terhadap solusi perubahan iklim dan memiliki manfaat ekonomi baik bagi sekolah maupun komunitas.
Kegiatan workshop dan sosialisasi Program School Climate Challenge ini telah dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Rabu/18 Februari 2009
Waktu : Pukul 09.00 WIB – 16.00 WIB
Tempat : Aula T. Amir Hamzah
Kantor Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Utara
Jl. T. Cik Dik Tiro No. 1D Medan
Pihak yang terlibat dalam pelaksanaan workshop dan sosialisasi Program School Climate Challenge ini, yaitu :
- OIC (Orangutan Information Centre)
- FK3LI (Forum Komunikasi Kader Konservasi Lingkungan Indonesia)
- Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Utara
Bentuk kegiatan yang dilakukan selama kegiatan workshop dan sosialisasi Program School Climate Challenge ini, yaitu :
- Penyampaian materi tentang “Memahami Potensi Dunia Pendidikan dan Lingkungan Sekolah dalam Menghadapi Dampak Pemanasan Global dan Perubahan Iklim”
- Diskusi interaktif seputar materi yang disampaikan dan penyampaian program pendidikan lingkungan yang telah dilakukan di sekolah
- Sosialisasi Program School Climate Challenge
- Panduan pengisian formulir dan pembuatan proposal project Program School Climate Challenge
Kegiatan workshop dan sosialisasi Program School Climate Challenge ini dibuka oleh Staf Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Utara dengan menyampaikan pidato sambutan Kepala Dinas Propinsi Sumatera Utara. Dimana dalam pidato sambutan tersebut Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Utara menyampaikan harapan agar melalui kegiatan ini dapat mendorong guru dan siswa untuk peduli dan melestarikan lingkungan melalui lingkup yang terdekat yaitu lingkungan sekolah masing-masing.
Kegiatan workshop dan sosialisasi Program School Climate Challenge ini diikuti oleh perwakilan guru dan siswa yang berasal dari Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Langkat. Peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut sebanyak 35 sekolah dengan jumlah total peserta 117 orang.
Kebun Pembibitan dan Pelatihan OIC
March 13, 2009
Sumber daya alam (SDA) pertanian khususnya bibit tanaman terbentang luas diseluruh kawasan nusantara yang merupakan potensi besar negara Indonesia. Kondisi tersebut merupakan aset yang sangat mahal dan sekaligus sebagai faktor keunggulan yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Potensi sumber daya alam pertanian tersebut merupakan faktor dominan dalam strategi pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
Oleh karena itu Orangutan Information Centre (OIC) membangun sebuah wadah sebagai sarana pendukung kegiatan tersebut, khusunya pembibitan dan perbanyakan tanaman sebagai pusat pelatihan konservasi alam dan lingkungan hidup yang mencakup pelatihan pembibitan, pelatihan daur ulang kertas dan barang bekas serta pelatihan pembuatan kompos.
Diatas lahan seluas 2000 meter persegi yang berlokasi di Lingkungan V Jl. Andayani Kelurahan Delitua Timur Kecamatan Deli Tua Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara, Indonesia, sekarang sedang dibangun fasilitas sederhana yang menunjang kegiatan konservasi alam dan lingkungan hidup. Sudah tersedianya sebuah gubuk/saung pembibitan dengan luas 50 meter persegi di kebun pembibitan dan pelatihan OIC ini. Program ini berjutuan untuk memproduksi bibit tanaman secara berkelanjutan dan menunjang kegiatan pelatihan-pelatihan konservasi, baik untuk siswa, mahasiswa, guru dan masyarakat umum tentunya.
Jenis tanaman yang dibudidayakan antara lain: Bibit Sungkai (Peronema canescens), Ingul (Tona sinensis), Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq), Durian (Durio zibethinus), Petai (Parkia speciosa). Pokat (Persea Americana), Krepayung (Filicium desipiens), Meranti (Shorea sp), Tanjung (Mimusops elengi), Petai (Parkia speciosa), Coklat (Theobroma cacao), Manggis (Garcinia mangostana), Aren (Arenga pinnata), Matau dan Glodokan, serta bibit-bibit tanaman lainnya. Saat ini telah tersedia lebih dari 25.000 bibit tanaman di kebun pembibitan tersebut dengan rencana produksi hingga 1000.000 pohon yang akan dijual (one stop shopping plants) dan sebagian lagi disumbangkan untuk kegiatan penghijauan dan reboisasi lahan.
Sementara itu rencana pengembangan berikutnya diupayakan tersedianya demplot tanaman obat, demplot kompos, damplot daur ulang kertas dan perpustakaan mini untuk pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum berisikan buku cerita anak, buku tentang lingkungan dan tanaman serta buku mengenai satwa yang dilindungi. Kemudian dilokasi tersebut juga diupayakan sebagai tempat atau wadah pertemuan dan diskusi kepada pihak-pihak pemerhati lingkungan dan kelompok mahasiswa, siswa pencinta alam sebagai tempat bercerita, curah pendapat dan berbagi pengalaman dan ilmu di lokasi tersebut.
Pride Campaign Di Batang Serangan
March 5, 2009
Banyaknya permasalahan yang terjadi di TNGL memerlukan solusi yang memungkinkan untuk mengurangi permasalahan yang sudah ada. Keterlibatan semua pihak baik masyarakat dan pemerintah untuk menentukan fokus permasalahan yang terjadi di dalam kawasan merupakan awal baik dan bentuk kemajuan komitmen. Inilah yang ingin dicapai dari pertemuan BBTNGL, beberapa kepala desa di Langkat, dan masyarakat di kantor camat Batang Serangan, Langkat pada awal bulan Februari 2009.
OIC sebagai fasilitator kegiatan berusaha mencari permasalahan inti dari kerusakan TNGL yang telah lama terjadi. Semua peserta kegiatan diarahkan fasilitator dengan bentuk kegiatan atraktif yang tidak sekedar diskusi sehingga menampilkan ‘pohon permasalahan’ yang merupakan pengamatan lapangan dan pandangan berbagai pihak lokal.
Hasilnya didapat tiga cakupan permasalahan di TNGL wilayah Besitang yaitu hutan TNGL, orangutan serta satwa liar dan keanekaragaman hayati. Permasalahan tersebut diakibatkan dari beberapa kenyataan lapangan antara lain pencurian plasma nutfah, illegal logging, perambahan hutan, pendudukkan/penguasaan lahan oleh pengungsi asal Aceh, kebakaran hutan dan perburuan satwa. Begitu kompleks yang mempengaruhi permasalahan di atas sehingga pride campaign berusaha mengurangi permasalahan dengan kegiatan yang bertahap akan dilaksanakan di wilayah Besitang.
Pride Campaign (Kampanye Bangga)
March 1, 2009
Pride Campaign (Kampanye Bangga)
Perubahan Perilaku Masyarakat untuk Menyelamatkan Leuser
Kawasan TNGL yang terletak di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara seluas 218.000 Ha merupakan cagar biosfer dan telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia. Berbagai ancaman telah lama terjadi di kawasan ini dan hingga kini belum terselesaikan secara tuntas mulai perambahan kawasan, penanaman sawit illegal, penebangan liar, pendudukkan kawasan dan jual beli lahan kawasan. Akibatnya berdampak pada kerusakan lingkungan, menurunnya fungsi ekologi dan mengusir satwa liar dari habitatnya.
Permasalahan yang ada harus dipandang sebagai persoalan bersama dan diselesaikan bersama semua pihak. Peran serta masyarakat dan kegiatan yang mendukung perubahan perilaku sangat efektif mengurangi permasalahan yang ada. Hal inilah dasar awal dari Pride Campaign yang dilaksanakan OIC bekerja sama dengan Rare dan Balai Besar TNGL.
Menuju perubahan perilaku tentu sulit untuk dicapai dalam waktu singkat. Awalnya proses Pride Campaign menentukan fokus masalah dan strategi untuk menjawab masalah yang ada bekerjasama dengan multipihak salah satunya pengembangan pesan yang tidak sekedar memberikan informasi lingkungan. Selanjutnya, berbagai upaya alternatif akan dilakukan seperti alternatif sumber pendapatan, dukungan penegakan hukum dan lain-lain sesuai dengan tujuan pengurangan ancaman pada kawasan. Mengurangi sedikit masalah lebih baik daripada membiarkannya hingga bertumpuk masalah.



